TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

Semangat Hari Santri Nasional, Santri Punya Amanah Menjaga Ilmu dan Merawat Umat

Ketua Umum MUI Kota Semarang Prof Dr KH Moh Erfan Soebahar MAg. 

SEMARANG – Santri memiliki dua amanah utama dalam kehidupan bermasyarakat, yakni menjaga ilmu agar tetap benar dan bermanfaat serta merawat umat dengan menghadirkan kedamaian, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Peran tersebut tidak berhenti ketika santri menyelesaikan pendidikan di pesantren, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang Prof Dr KH Moh Erfan Soebahar dalam kajian Hikmah Pagi RRI Pro 4 Semarang, Senin (19/10). Dalam momentum Hari Santri Nasional, ia mengajak masyarakat memahami kembali peran strategis santri dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Menurut Erfan, menjaga ilmu tidak sekadar mempertahankan pengetahuan yang telah dipelajari, tetapi juga memastikan ilmu tersebut tetap berada pada jalur kebenaran, terus berkembang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Sementara itu, merawat umat berarti menghadirkan nilai-nilai agama yang menyejukkan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Kedua amanah tersebut perlu berjalan beriringan. Penguasaan ilmu harus disertai akhlak yang baik agar pengetahuan tidak hanya menjadi keunggulan intelektual, tetapi juga menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak.

Karena itu, santri diharapkan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat melalui perilaku yang santun, kejujuran, kebijaksanaan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai yang dipelajari di pesantren harus tercermin dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, maupun ruang publik.

Tantangan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan sosial yang berlangsung cepat. Arus informasi yang deras menuntut santri memiliki literasi digital dan kemampuan berpikir kritis agar mampu membedakan informasi yang benar dari kabar yang menyesatkan.

Santri juga perlu bijaksana dalam menggunakan media sosial. Informasi yang belum terverifikasi tidak semestinya langsung dipercaya atau disebarkan karena dapat memicu kesalahpahaman, permusuhan, bahkan perpecahan di tengah masyarakat.

Sebaliknya, kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas manfaat ilmu, menyebarkan pesan kebaikan, dan memperkuat persaudaraan. Dengan bekal ilmu agama dan kemampuan memahami perkembangan zaman, santri diharapkan mampu mengambil peran positif dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Erfan menekankan, Hari Santri Nasional hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut perlu menjadi pengingat untuk memperkuat semangat belajar, menjaga akhlak, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan pengabdian kepada umat serta bangsa.

Melalui kajian Hikmah Pagi, MUI Kota Semarang berharap nilai-nilai kesantrian semakin kuat dalam kehidupan masyarakat. Santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga tampil sebagai teladan yang mampu menghadirkan kedamaian dan memberikan solusi atas tantangan zaman.

Dengan memadukan ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial, santri memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang rukun, beradab, dan berkemajuan.


Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin