TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

Mutiara Jumat: Penyakit Orang Jahil dan Alim


Oleh: Dr. KH. Nasirudin, M.Ag, Ketua IV MUI Kota Semarang.

Sama-Sama Rugi


Orang jahil dan alim sama-sama memiliki penyakit. Penyakit orang jahil sering memperbanyak amalan-amalan yang tidak perlu, sementara penyakit orang alim sering menunda-nunda amal kebaikan yang perlu.

Sering kali kendaraan orang jahil dipenuhi dengan muatan amalan-amalan sampah dan sering kali kendaraan orang alim kosong tidak bermuatan.

Sahabat Ali r.a. berkata;

جَاهِلُكُمْ مُزْدَادٌ وَ عَالِمُكُمْ مُسَوِّفٌ.

Orang jahil di antara kalian memperbanyak (sesuatu yang tak perlu), sedang orang yang berilmu di antara kalian menunda (sesuatu yang perlu)

Sering sekali anak-anak yang notabene masih jahil datang ke masjid dengan berbagai atraksi permainan, sementara sering kali orang alim tidak mau datang ke masjid dengan berbagai alasan. Orang jahil tanpa ilmu beramal, sementara orang alim dengan ilmunya tidak beramal.

Keduanya sama-sama mendapat kerugian meskipun kerugian yang lebih besar akan menimpa orang yang berilmu. Al-Ghazali dalam kitab Bidayah al-Hidayah mengatakan;

فويل للجاهل حيث لم يتعلم مرة واحدة، وويل للعالم حيث لم يعمل بما عمل ألف مرة

Celaka satu kali bagi orang bodoh yang tidak belajar, dan celaka seribu kali bagi orang berilmu yang tidak mengamalkan apa yang diketahuinya
Ilmu Berpisah dengan Amal

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ilmu itu memanggil amal. Jika ia memenuhi panggilan tersebut (maka itu baik), dan jika tidak, ia akan pergi.

Ilmu dan amal merupakan dua perkara yang memiliki hubungan sangat erat. Keduanya dapat berkumpul dalam diri seseorang, tetapi dapat pula terpisah. Keduanya dikatakan berkumpul apabila seseorang memiliki ilmu sekaligus mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupannya. Adapun keduanya dikatakan berpisah apabila seseorang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya, atau melakukan suatu amal namun tidak bersama ilmu.

Keterpisahan antara ilmu dan amal sama-sama mengandung bahaya. Namun demikian, konsekuensi seseorang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya dipandang lebih berat daripada orang yang beramal tanpa didasari ilmu yang memadai.

فَعَالِمٌ بِعِلمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ # مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الْوَثَن

Orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, lebih dahulu disiksa sebelum para penyembah berhala (Imam Ibnu Ruslan-Nadzam Zubad)

Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah bagi orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.

Di dalam ajaran Islam, ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan merupakan salah satu hal yang sangat dilarang dan akan menuntut pertanggungjawaban yang berat di akhirat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Aṣ-Ṣaff: 2–3):

Tidak mengamalkan ilmu terbagi menjadi dua. Pertama, meninggalkan kewajiban atau tetap melakukan perkara yang diharamkan, padahal telah mengetahui hukumnya. Bentuk ini termasuk dosa dan menjadi sasaran utama ayat serta hadis tentang ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya. Kedua, meninggalkan perkara yang dianjurkan atau melakukan perkara yang dimakruhkan. Hal ini dapat dipandang tercela, tetapi tidak termasuk dalam ancaman yang sama dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.

Pertanggungjawaban Ilmu


Apabila ada ilmu yang tidak diiringi dengan amal, maka orang yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu tersebut.

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسئل عن عمره فيم أفناه وعن علمه فيم فعل وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه وعن جسمه فيم أبلا

Pada hari kiamat, seorang hamba tidak akan beranjak sebelum dimintai pertanggungjawaban tentang umurnya—untuk apa dihabiskan; ilmunya—bagaimana diamalkan; hartanya—dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan; serta tubuhnya—untuk apa digunakan selama hidupnya (H.R. at-Tirmidzi)

Imam al-Hasan al-Bashri

العلم علمان فعلم في القلب فذلك العلم النافع وعلم على اللسان فذلك حجة الله على بن آدم

Ilmu itu ada dua macam: ilmu yang berada di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat; dan ilmu yang hanya berada di lisan, maka itulah hujah Allah atas anak Adam (H.R. Ad-Darimi)

Ilmu di hati, yaitu ilmu yang benar-benar meresap ke dalam diri sehingga melahirkan rasa takut kepada Allah, ketundukan, ketakwaan, serta mendorong seseorang untuk beramal saleh; dan inilah yang disebut ilmu yang bermanfaat. Ilmu di atas lisan (Ilmu ‘ala al-lisan) merupakan ilmu yang hanya dihafal atau diucapkan dengan lisan tanpa diresapi di dalam hati dan tidak diamalkan. Ilmu seperti ini menjadi hujjah (bukti/alasan) Allah bagi-Nya untuk menuntut pertanggungjawaban hamba-Nya kelak di akhirat, bukan penolong bagi pemiliknya.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan melindungi kita semua.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin