TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

MUTIARA JUMAT: KETIKA SEORANG TELAH MERASAKAN MANISNYA IMAN

Ilustrasi dibuat dengan AI)



Oleh Nasirudin


IMAN HANYA DIBERIKAN KEPADA YANG DICINTAI
Sesungguhnya Allah memberikan harta dan kenikmatan dunia kepada siapa saja, baik kepada orang yang dicintai-Nya maupun yang tidak dicintai-Nya. Namun, Allah hanya menganugerahkan keimanan kepada orang yang dicintai-Nya. Sungguh beruntung orang yang hatinya dipenuhi iman dan dibersihkan dari kekufuran serta kedurhakaan. Allah berfirman,

...وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

…Akan tetapi, Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran.” (QS Al-Ḥujurāt [49]: 7).

IMAN MEMILIKI RASA

Iman dapat diibaratkan seperti makanan yang lezat, tetapi kenikmatannya tidak selalu dirasakan dengan intensitas yang sama oleh setiap orang. Rasa makanan sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tubuh seseorang. Makanan selezat apa pun dapat terasa hambar, bahkan pahit, apabila tubuh sedang tidak sehat. Orang yang sakit kuning akan merasakan madu itu pahit, sementara orang yang sehat dapat menikmati manisnya madu. Apabila kesehatan berkurang, maka rasa manisnya madu pun semakin berkurang, sesuai dengan kondisi kesehatannya.

Demikian pula dengan iman. Manis dan nikmatnya iman sangat bergantung pada kondisi hati.
Manisnya iman lebih besar daripada semua rasa manis. Rasa manis iman yang didapati oleh seseorang di dalam hatinya tidak setara dengan apa pun, ia mendapati kelapangan dalam dadanya, cinta kepada kebaikan, dan cinta kepada orang-orang yang berbuat baik. Manisnya iman adalah keadaan ketika seseorang merasakan kenikmatan dan ketenteraman hati dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, bersedia menanggung berbagai hal yang nampak pahit dalam menjalankan ajaran agama, serta lebih mengutamakan keridaan Allah daripada keridaan makhluk. Dengan demikian, ketaatan tidak lagi dipandang sebagai beban yang memberatkan, melainkan sebagai kebahagiaan batin. 

Bagi sebagian orang, shalat itu pahit, berat, dan bukan sesuatu yang menarik. Namun, bagi sebagian orang yang sudah merasakan manisnya iman, shalat itu kebahagiaan, ketenangan, ketenteraman, dan kenikmatan tiada tara, sehingga kesibukan lain akan dikalahkan oleh manisnya iman tersebut, meski orang-orang melihatnya sebagai sesuatu yang sangat pahit. 

TIGA SYARAT

Ada tiga syarat seseorang dapat merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ

  ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga perkara yang apabila terdapat dalam diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya; (2) ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan (3) ia tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan ke dalam api neraka (HR al-Bukhari)

Seseorang akan dapat merasakan manisnya iman ketika ia telah mencapai tiga kondisi dalam dirinya, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu, mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan ke dalam api neraka.

Kondisi pertama, seseorang akan dapat merasakan manisnya iman ketika ia telah mampu menempatkan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segala kecintaan lainnya. Kecintaan ini tumbuh dari pengenalan (ma‘rifah) dan kesadaran yang mendalam terhadap keindahan, keagungan, kemurahan, serta kasih sayang Allah yang tiada batas. Jika seseorang benar-benar merenung secara mendalam, bahwasanya Allah-lah pemberi nikmat yang hakiki, pada hakikatnya Dia sajalah yang memberi dan menahan karunia, makhluk hanyalah sebagai perantara belaka. Semakin seseorang menyadari besarnya kemurahan Allah, semakin tumbuh rasa syukur dan kecintaan kepada-Nya. 

Demikian pula, kecintaan kepada Rasulullah SAW. tumbuh dari pengenalan terhadap keluhuran akhlak, besarnya kasih sayang, dan pengorbanan beliau dalam membimbing umat manusia menuju keselamatan. Semakin mendalam seseorang mengenal kehidupan, perjuangan, dan keteladanan Rasulullah SAW, semakin besar pula kecintaan dan keinginannya untuk mengikuti beliau. Dengan demikian, seseorang akan merasakan manisnya iman ketika kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya telah menjadi kecintaan tertinggi yang mengarahkan seluruh sikap, kehendak, dan tujuan hidupnya.

Kondisi kedua, seseorang akan dapat merasakan manisnya iman ketika ia telah mampu mencintai orang lain semata-mata karena Allah, bukan karena kekayaan, kedudukan, penampilan, atau keuntungan pribadi. Kecintaan tersebut tumbuh karena adanya kesamaan iman, nilai-nilai kebaikan, dan tujuan hidup untuk meraih keridaan Allah. Ia mencintai seseorang bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan karena keimanan, ketakwaan, dan kemuliaan akhlaknya.

Dalam keadaan demikian, kecintaan kepada sesama tidak lagi didasarkan pada kepentingan duniawi, melainkan menjadi bagian dari kecintaannya kepada Allah. Semakin kuat kecintaan seseorang kepada Allah, semakin besar pula kecintaannya kepada orang-orang yang berusaha menaati dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan demikian, seseorang akan merasakan manisnya iman ketika ia telah mampu menjadikan keridaan Allah sebagai dasar dalam mencintai orang lain.

Kondisi ketiga, seseorang akan dapat merasakan manisnya iman ketika ia telah sampai pada keadaan tidak suka kembali kepada kekufuran, khawatir kalau keislamannya hilang sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan ke dalam api neraka. Sikap ini lahir dari rasa takut (khauf) terhadap azab Allah dan kesadaran bahwa iman merupakan anugerah yang sangat berharga serta menjadi jalan menuju keselamatan. Karena itu, ia senantiasa menjaga, memelihara, dan memperkuat keimanannya agar tidak terjerumus ke dalam kekufuran. 
Orang seperti ini benar-benar meyakini bahwa segala sesuatu yang telah dijanjikan dan diancamkan oleh Allah adalah haq dan benar. Janji Allah tersebut seakan benar-benar muncul di hadapannya. Keyakinan itulah yang menimbulkan rasa takut. Kuatnya rasa takut semakin memperkuat keinginannya untuk mempertahankan imannya. 

Sebaliknya, apabila keyakinan seseorang melemah, maka rasa takutnya juga melemah hingga seseorang dapat kehilangan kepekaan terhadap besarnya bahaya kekufuran. 
Ketika hati terlalu dipenuhi keinginan akan harta, kedudukan, dan kenikmatan duniawi, seseorang akan mengabaikan ancaman apa pun yang menimpanya. Sebagai contoh, seorang pencuri sebenarnya mengetahui bahwa mencuri merupakan perbuatan dosa yang mendatangkan hukuman. Namun, karena keinginannya untuk memperoleh harta lebih dominan daripada rasa takutnya terhadap hukuman, ia tetap melakukan pencurian. Hatinya telah tertutup, sehingga terjadi disfungsi dan hati kehilangan rasa.


Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan melindungi kita semua
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

(Dr H Nasirudin MAg, Ketua MUI Kota Semarang) 

Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin