![]() |
| Ketua Umum MUI Kota Semarang Prof Dr KH Moh Erfan Soebahar MAg |
SEMARANG – Menjadi muslim yang tangguh bukan berarti hidup tanpa persoalan. Ketangguhan justru ditunjukkan dengan kemampuan tetap istiqamah, bangkit dari kesulitan, dan terus berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum MUI Kota Semarang Prof Dr KH Moh Erfan Soebahar MAg dalam Ceramah Hikmah Pagi yang disiarkan RRI Semarang, Senin (5/10/2026).
Dalam ceramahnya, Prof Erfan mengajak umat Islam membangun ketangguhan diri dengan memperkuat iman sekaligus bersungguh-sungguh menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Ia menyampaikan empat prinsip utama yang perlu dipegang seorang muslim. Yakni memperkuat iman, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, senantiasa memohon pertolongan Allah SWT, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Menurutnya, kekuatan seorang muslim semestinya tidak berhenti untuk kepentingan diri sendiri. Ketangguhan yang dibangun melalui iman harus melahirkan kemanfaatan bagi orang lain.
Kemanfaatan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai potensi yang dimiliki. Mulai dari ilmu, harta, jabatan hingga pengalaman. Apa pun yang dimiliki seorang muslim dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan bagi lingkungan dan masyarakat.
Bijak Menggunakan Teknologi
Prof Erfan juga mengingatkan umat Islam agar mampu menyikapi perkembangan teknologi secara bijak. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi kehidupan.
Karena itu, teknologi hendaknya digunakan untuk hal-hal produktif dan menyebarkan kebaikan. Pemanfaatannya tetap harus berpegang pada nilai-nilai kejujuran, amanah, tanggung jawab dan kasih sayang.
Menurut dia, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan nilai kemanusiaan. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas manfaat, menambah pengetahuan, mempererat silaturahmi, serta menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat.
Ia juga memberikan contoh praktis dalam menghadapi kegagalan. Seorang muslim tidak seharusnya menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik. Kegagalan perlu dijadikan pengalaman untuk melakukan evaluasi, memperbaiki diri, kemudian kembali bangkit.
Berbuat baik pun tidak harus menunggu memiliki kesempatan besar. Kebaikan dapat dimulai dari rumah dan lingkungan terdekat, termasuk dengan memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan informasi dan pesan-pesan positif.
Pesan tersebut menegaskan bahwa ketangguhan seorang muslim bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi persoalan. Lebih dari itu, ketangguhan harus diwujudkan dalam sikap istiqamah, produktif, pantang menyerah dan terus memberikan manfaat.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, umat Islam diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkuat iman, meningkatkan kualitas diri dan memperluas kemanfaatan bagi sesama.

0Komentar