![]() |
| Ketua Umum Majelis MUI Kota Semarang Prof Dr KH Moh Erfan Soebahar MAg |
SEMARANG — Konsistensi dalam menjalankan kebaikan menjadi kunci menjaga ketenangan hidup sekaligus membangun produktivitas berkelanjutan di tengah derasnya arus perubahan zaman. Istiqomah tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga tercermin dalam etos kerja, tanggung jawab, dan hubungan sosial.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang Prof Dr KH Moh Erfan Soebahar MAg dalam kajian Hikmah Pagi RRI Pro 4 Semarang, Senin (12/10/2026).
Dalam siaran bertema “Istiqamah: Kunci Hidup Tenang dan Produktif” itu, ia mengajak masyarakat menjaga keteguhan iman dan konsistensi berbuat baik di tengah tantangan era modern.
Menurut Prof Erfan, budaya serba instan menjadi salah satu tantangan dalam membangun produktivitas. Keinginan memperoleh hasil dengan cepat tanpa melalui proses yang berkelanjutan dapat membuat seseorang mudah kehilangan fokus dan semangat ketika menghadapi kesulitan.
“Produktivitas sejati hari ini tergerus oleh budaya instan. Banyak yang ingin hasil cepat tanpa proses. Padahal dalam Islam, yang dicintai Allah itu adalah amal yang sedikit tapi konsisten, istiqomah, bukan yang banyak tapi terputus,” tegasnya.
Ia menjelaskan, istiqomah merupakan keteguhan dalam keimanan sekaligus konsistensi menjalankan kebaikan. Nilai tersebut perlu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari menjaga ibadah, melaksanakan pekerjaan secara bertanggung jawab, hingga membangun hubungan sosial yang harmonis.
Istiqomah, lanjutnya, bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan. Sebaliknya, istiqomah tercermin dari kesediaan untuk terus memperbaiki diri, melakukan muhasabah, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan maupun godaan.
Di tengah perkembangan teknologi, distraksi media sosial dan keinginan mendapatkan hasil secara cepat menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut dapat memecah konsentrasi dan membuat seseorang kesulitan menjaga komitmen terhadap tujuan jangka panjang.
Untuk menjaga istiqomah, Prof Erfan menyampaikan lima langkah praktis. Pertama, meluruskan dan memperbarui niat karena Allah SWT. Kedua, membiasakan amal ringan yang dapat dilakukan secara konsisten. Ketiga, membangun lingkungan atau komunitas yang saling mengingatkan dalam kebaikan.
Keempat, memperbanyak doa agar diberikan keteguhan hati. Kelima, melakukan evaluasi dan perbaikan diri secara berkelanjutan.
Langkah-langkah tersebut dapat menjadi landasan untuk membangun kebiasaan positif, baik dalam kehidupan spiritual maupun aktivitas sehari-hari. Konsistensi dalam melakukan hal-hal kecil dinilai lebih bermakna ketika dijalankan secara terus-menerus daripada semangat besar yang hanya bertahan sesaat.
“Ketenangan hidup lahir dari istiqomah. Ketika seseorang istiqomah, ia tidak mudah cemas karena standarnya bukan pujian manusia, tapi ridha Allah. Dan dari situlah produktivitas yang berkelanjutan akan tumbuh,” ungkapnya.
Melalui kajian tersebut, MUI Kota Semarang berharap pesan keagamaan dapat menjadi penguat spiritual masyarakat. Dengan menjaga istiqomah, umat diharapkan mampu menghadapi perubahan zaman secara bijaksana, tetap produktif, dan konsisten menebarkan kebaikan.

0Komentar