TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

Mutiara Jum'at: Pendeknya Waktu Dunia


Oleh: Dr. KH. Nasirudin, M.Ag, Ketua IV MUI Kota Semarang.

Waktu sebagai Wadah


MUI Kota Semarang - Meskipun panjang umur manusia di dunia tidak ada yang tahu pasti, namun cukup bagi kita memperkirakan batas maksimalnya dari rata-rata usia orang-orang yang telah mendahului kita, yang sangat jarang menembus angka 100 tahun. Hal ini sejalan dengan petunjuk Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa umur umatnya umumnya berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan hanya sebagian kecil saja yang diberi kesempatan hidup melampaui usia tersebut.

Hidup selama 100 tahun tetaplah singkat jika dibandingkan dengan akhirat yang tanpa batas. Namun, waktu yang terbatas inilah penentu utama nasib kita di akhirat. Berbahagialah mereka yang sadar akan pentingnya waktu dengan mengisinya lewat kebaikan yang berdampak tidak hanya di dunia, namun juga akhirat.

Sayangnya, masih banyak yang mengabaikan waktu dan terjebak pada pencapaian duniawi semata, bahkan ada juga yang melewatkan hari-hari mereka begitu saja tanpa nilai.

Waktu hanyalah sebuah wadah; manusialah pengisi utamanya. Apakah wadah itu akan dibiarkan kosong, diisi tumpukan kemaksiatan yang merusak masa depan, atau dipenuhi kebaikan yang menyelamatkan, atau hanya diisi tumpukan amal dunia saja yang akhirnya akan ditumpahkan bersamaan dengan kematian kita, atau kita isi dengan amal saleh yang akan tetap terbawa hingga akhirat? Semua tergantung pada pilihan kita.

Orang yang mengerti betapa berharganya waktu akan berusaha membeli waktu dari orang-orang yang tak bisa menghargainya, seandainya hal itu memungkinkan.

Menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak berfaedah lebih merusak daripada kehilangan nyawa itu sendiri. Kematian hanya memisahkan manusia dari dunianya, tetapi menyia-nyiakan waktu akan merusak akhir dunianya dan membinasakan masa depannya di akhirat.

Waktu Dunia di Mata Allah


Allah SWT menetapkan standar bahwa satu hari di sisi-Nya setara dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia di dunia:

وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ

“…Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Ḥajj: 47)

Jika rasio matematis ini diturunkan ke dalam hitungan waktu yang biasa kita kenal, satu hari akhirat yang berdurasi 24 jam setara dengan 1.000 tahun kehidupan di dunia. Dengan demikian, setiap satu jam di akhirat memiliki nilai yang sama dengan sekitar 41,6 tahun di dunia.

Jika rata-rata umur umat Nabi ﷺ berkisar antara 60 hingga 70 tahun, maka jika kalkulasi tersebut diterapkan, seluruh jatah hidup manusia di bumi sesungguhnya amat sangat singkat. Umur 60 hingga 70 tahun yang terasa panjang bagi kita di dunia, pada skala waktu akhirat ternyata hanya setara dengan 1,4 hingga 1,6 jam saja—tidak lebih dari durasi sebuah pertemuan singkat di tengah hari.

Allah SWT telah menegaskan ketika menyandingkan dunia dengan akhirat bahwa dunia itu sangat sedikit, yang diawali dengan sebuah pertanyaan yang menggugah:

أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“…Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan) akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)

Hal senada ditegaskan pula dalam Surah An-Nisā’ ayat 77:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَىٰ

“…Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa...’”

Allah mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh ilusi kecukupan semu, sebab seluruh kenikmatan bumi pada hakikatnya hanyalah bernilai “sedikit” dan berlangsung “sebentar” (matā‘ul-qalīl).

Ayat-ayat ini tidak menuntut kita menolak keberadaan dunia, melainkan menata ulang kesadaran jiwa kita.

Abul-Walid al-Bâji rahimahullah berkata: “Jika aku telah mengetahui dengan sangat yakin bahwa seluruh hidupku di dunia ini seperti satu jam di akhirat, maka mengapa aku tidak bakhil dengan waktu hidupku (untuk melakukan perkara yang sia-sia), dan hanya kujadikan hidupku di dalam kebaikan dan ketaatan.”

Dunia dalam Pandangan Nabi


Perumpamaan nilai dunia di mata Nabi Muhammad SAW secara gamblang dapat dipahami melalui ilustrasi air laut:

وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti seseorang di antara kamu yang memasukkan jarinya ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat berapa banyak air yang tersisa di jarinya ketika diangkat.” (HR. Muslim)

Samudra luas yang tak bertepi melambangkan kenikmatan serta keabadian akhirat, sedangkan setetes air yang menempel di ujung jari mewakili seluruh akumulasi kekayaan, jabatan, dan kelezatan duniawi yang diperebutkan manusia. Di mata Nabi SAW, dunia bukannya tidak bernilai sama sekali, melainkan nilainya sangat kecil jika dijadikan tujuan puncak kehidupan.
Dunia dalam Testimoni Penduduk Akhirat

Hakikat singkatnya kehidupan di dunia terpancar secara dramatis melalui dialog antara Allah SWT dan manusia pada hari kiamat yang diabadikan dalam Al-Qur'an.

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dia (Allah) bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan hanya sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mu’minūn: 112–114)

Seluruh perjalanan hidup manusia puluhan tahun yang dahulu dirasakan begitu panjang, penuh perjuangan, dan diwarnai perburuan materi yang melelahkan, seketika menyusut hingga terasa tak lebih dari “sehari atau setengah hari”. Jawaban jujur dari para penghuni akhirat ini menjadi pengakuan bahwa megahnya dunia yang pernah mereka genggam ternyata hanyalah bayangan yang melintas sangat cepat.
Pengalaman Dua Orang yang Berbeda

Berikut adalah pengalaman empiris calon penghuni neraka dan surga tentang pengalamannya di dunia sebagaimana disarikan dari cerita Nabi ﷺ dalam Shahih Muslim.

Di hadapan seluruh makhluk, dipanggillah seorang manusia yang sewaktu di dunia meneguk puncak seluruh kemewahan, ia yang paling kaya, paling berkuasa, dan paling memanjakan nafsunya. Namun, sayang, ia ditakdirkan menjadi penghuni neraka.

Allah lalu memerintahkan agar ia dicelupkan: hanya satu celupan singkat ke dalam samudra azab neraka.

Ketika ia diangkat kembali, Allah mengajukan pertanyaan yang mengetuk kedalaman jiwanya: “Wahai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan walau sedikit? Pernahkah engkau merasakan kenikmatan walau sekilas?”

Tiba-tiba, seluruh memori kemewahan seumur hidupnya sirna tanpa sisa. Dengan jiwa yang guncang, ia bersumpah:

“Tidak, demi Allah, wahai Rabbku!”

Segala takhta, harta, dan kelezatan yang dahulu ia kejar mati-matian mendadak menguap, hancur lebur hanya oleh satu detik celupan neraka.

Lalu, dihadirkan pula sosok sebaliknya: seorang hamba dari calon penghuni surga yang sepanjang hidupnya di dunia didera derita paling kelam—ia yang kenyang oleh sakit, kemiskinan, dan kepedihan air mata. Allah kemudian mencelupkannya: hanya satu celupan sekejap ke dalam keindahan surga.

Saat ia diangkat, Allah bertanya kepadanya: “Wahai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan walau sedikit? Pernahkah engkau mengalami penderitaan walau sekilas?”

Ajaibnya, satu sentuhan surga itu seketika membasuh seluruh luka sejarah hidupnya. Dengan wajah berseri, ia menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku! Aku tidak pernah mengalami kesengsaraan sedikit pun dan tidak pernah melihat penderitaan sama sekali.”

Satu detik di neraka sanggup memusnahkan seluruh kelezatan seumur hidup, dan satu detik di surga sanggup menyembuhkan seluruh penderitaan seumur hidup.

Sikap Terbaik


Sikap terbaik seorang muslim adalah memanfaatkan seluruh kenikmatan dan kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk meraih kebahagiaan di kampung akhirat, tanpa melupakan hak dan kebutuhan hidupnya di dunia.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Surah Al-Qasas ayat 77:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا …

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan melindungi kita semua.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin