Hilang Keseimbangan
MUI Kota Semarang - Ketika seseorang enggan berfokus pada hal-hal spiritual—seperti akhirat, surga, dan neraka—sebenarnya ia telah kehilangan keseimbangan dirinya. Ada potensi mendasar dalam kemanusiaannya yang sengaja dinonaktifkan. Allah menganugerahkan kepada manusia berbagai potensi ruhani, mulai dari akal, nafsu, hingga qalbu. Agar tidak terjebak dalam batas-batas naluri kehewanan, manusia dituntut untuk mengaktifkan serta memfungsikan seluruh potensi tersebut secara seimbang.
Qalbu (hati) manusia merupakan unsur manusia yang paling esensi. Hati di sini bukan hati secara fisik (Al-Qalb al-Jasmani) yang menjadi urusan anatomi kedokteran, melainkan hati ruhaniah yang merupakan esensi manusia yang sejati—sebuah lathifah yang bersifat rabbaniyyah. Di sinilah tempat bersemayamnya kesadaran dan penentu keindahan atau buruknya akhlak. Dan pada hari akhir nanti, hati rohani inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Menurut Al-Ghazali dalam kitab Kimiya al-Sa'adah, hati diciptakan untuk beramal bagi akhirat demi menggapai kebahagiaannya. Manusia umumnya mengalami dikotomi: ketika sibuk dengan dunia, mereka abai terhadap akhirat. Hanya sosok yang mendapat bimbingan Ilahi yang dianugerahi kapasitas jiwa yang cukup luas untuk memimpin dan menyelaraskan urusan duniawi sekaligus spiritual secara sempurna tanpa mengorbankan salah satunya.
Sahabat Ali membuat tiga perumpamaan tentang dunia dan akhirat:
هما ككفتي الميزان وكالمشرق والمغرب وكالضرتين إذا أرضيت إحداهما أسخطت الأخرى
Mentok Urusan Dunia
Melalui Al-Qur'an, Allah memberikan gambaran nyata tentang orang-orang yang pengetahuannya mentok di urusan dunia. Kehidupan akhirat sama sekali tak ada dalam radar mereka—mereka lalai, bersikap skeptis, bahkan buta terhadap realitas spiritual tersebut. Ada tembok tebal yang membatasi cara pandang mereka, membuktikan bahwa fokus dan pemahaman hidup mereka memang tidak pernah menembus batas-batas fana.
فَاَعْرِضْ عَنْ مَّنْ تَوَلّٰىۙ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ اِلَّا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۗ ذٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِۗ …
بَلِ ٱدَّٰرَكَ عِلْمُهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ ۚ بَلْ هُمْ فِى شَكٍّ مِّنْهَا ۖ بَلْ هُم مِّنْهَا عَمُونَ
Jangan Hanya Pintar Urusan Dunia
Hendaknya kita jangan hanya pandai urusan dunia, hanya puas dengan taman dunia, dan hanya pintar tentang perkara dunia. Kebanyakan manusia gagal memahami janji-janji Allah karena kecerdasan mereka tertahan pada apa yang "tampak" (zahir) di permukaan dunia saja.
Mereka begitu ahli dalam menata fisik dan materi, tetapi membiarkan hati ruhaninya mati dalam kelalaian (ghafilah) terhadap akhirat.
وَعْدَ اللّٰهِ ۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ وَعْدَه وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ
Nabi ﷺ pun menyindir bagi orang-orang yang hanya pinter urusan dunia.
إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ، حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِأَمْرِ الآخِرَةِ
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan melindungi kita semua.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


0Komentar