TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

Mutiara Jumat: Kemana Hati Berpijak, di Situ Iman Ditakar


Oleh: Dr. KH. Nasirudin, M.Ag, Ketua IV MUI Kota Semarang.

Dua Pilihan


Di dunia ini, kita selalu dihadapkan pada dua perkara yang saling berhadapan: antara kebaikan dan keburukan, keimanan dan kekufuran, keluhuran makruf dan nistanya kemungkaran, serta indahnya keadilan dan perihnya kezaliman.

Pilihan-pilihan ini hadir tanpa henti—di mana saja dan kapan saja, baik dalam lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun panggung kehidupan berbangsa.

Ini adalah sunnatullah, sebuah ketetapan agung di mana Allah membekalkan dua potensi dasar di dalam jiwa manusia: jalan keburukan (fujur) dan jalan ketakwaan (taqwa). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) keburukan dan ketakwaannya." (Q.S. Asy-Syams: 8)

Allah juga menegaskan dalam firman-Nya yang lain:

وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)." (Q.S. Al-Balad: 10)

Melalui dua pilihan jalan hidup ini pula, kelak manusia akan terbelah menjadi dua barisan utama: Golongan Kanan (Ashabul Yamin) yang memegang teguh petunjuk-Nya, dan Golongan Kiri (Ashabul Syimal) yang berpaling menyusuri jalan kebatilan.

Dua jalan dan dua muara itu telah terbentang nyata di hadapan kita. Pada akhirnya, setiap detik kehidupan adalah tentang keberanian memilih: apakah kita akan membimbing jiwa menyusuri jalan takwa bersama Golongan Kanan menuju keridaan-Nya, atau membiarkannya hanyut mengikuti bisikan fujur hingga terhempas bersama Golongan Kiri dalam kebinasaan.

Keberpihakan Adalah Cermin Jiwa


Saat dua kelompok saling berhadapan, kecenderungan jiwa manusia akan selalu berlabuh pada tempat yang paling mencerminkan siapa dirinya. Keberpihakan yang kita pilih sejatinya adalah cermin utuh dari apa yang bersemayam di dalam dada, di mana nilai hidup dan keyakinan menjadi kompas utamanya. Seorang pecandu tidak akan menyukai mereka yang menghalangi kesenangannya, sebagaimana jiwa-jiwa yang menjaga kesucian tak mungkin menaruh simpati pada siapa pun yang memberi jalan menuju keburukan.

Sejarah mengukir kebenaran ini dengan sangat indah pada peristiwa kekalahan dan kemenangan Romawi serta Persia. Ketika imperium Persia mengalahkan Romawi, kaum musyrik Makkah bersorak gembira. Sebaliknya, saat Romawi membalas kemenangan tersebut, dada kaum muslimin dipenuhi rasa syukur. Hal ini terjadi karena jiwa senantiasa mencari sekutunya. Kepercayaan kaum musyrik Makkah merasa sejalan dengan penyembahan berhala bangsa Persia, sementara keimanan kaum muslimin merasa lebih dekat dengan Romawi yang memegang teguh ajaran samawi.

Secara alamiah, pedagang yang bijak tak akan pernah menyatukan permata indah dengan barang yang rusak. Masing-masing diletakkan pada tempatnya, memiliki nilai dan harganya tersendiri. Begitu pula dengan kehidupan ini; di dunia kita akan senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan jiwa yang sama, dan kelak di akhirat, kita pun akan dikumpulkan bersama orang-orang yang sepadan dengan diri kita.

Pengakuan Jiwa


Keberpihakan ini sesungguhnya adalah sebuah pengakuan jiwa. Allah Subhanahu wa Ta'ala secara tegas mengklaim bahwa barangsiapa yang cenderung dan memihak kepada kezaliman, maka ia menjadi bagian dari mereka, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Ma'idah ayat 51:

وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Dan barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka (فَإِنَّهُ مِنْهُمْ). Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Bahkan dalam Surat Hud ayat 113, Allah melarang keras sekecil apa pun kecondongan hati kepada kezaliman:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka ..."

Di Situ Iman Ditakar


Demikian pula, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan tolok ukur keimanan paling dasar ketika hati masih memiliki rasa ingkar terhadap kemungkaran melalui sabdanya dalam riwayat HR. Muslim:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya—dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman."

Jika di dalam jiwa seseorang tak ada lagi rasa ingkar atau benci terhadap keburukan, maka keimanan di dalamnya tak tersisa lagi. Maka dari itu, perhatikanlah dengan sungguh-sungguh ke mana hatimu berpihak, sebab ke sanalah langkah dan takdirmu sedang mengarah.

Penyesalan di Akhir Perjalanan


Penyesalan kelak di akhirat tidak hanya timbul akibat perbuatan salah yang kita lakukan, tetapi juga dari kecenderungan hati yang keliru serta keputusan untuk memilih teman dan kelompok yang salah. Penyesalan mendalam ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Furqan ayat 27–28:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا * يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: 'Aduhai, sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.' Wahai, celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku.'"

Maka, agar kita tidak tergolong ke dalam barisan orang-orang yang menyesal, marilah kita senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana firman-Nya dalam Surat Ali 'Imran ayat 193:

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِ

"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang selalu berbuat kebaikan."
Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin