Oleh: Dr. KH. Nasirudin, M.Ag, Ketua IV MUI Kota Semarang.
Kasih sayang Nabi ﷺ
Allah SWT mengabadikan betapa agungnya sifat dan kepribadian Baginda Nabi Muhammad SAW dalam memikirkan keselamatan umat-Nya. Dalam Surah At-Taubah ayat 128, Allah SWT berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Ibnu Katsir menjelaskan bagaimana hubungan kebatinan Nabi Muhammad ﷺ dengan umatnya.
1. 'Azīzun 'Alaih (Sangat Merasa dan Tidak Tega): betapa besarnya rasa empati dan kasih sayang Rasulullah SAW yang ikut merasa pedih setiap kali umatnya berada dalam kesulitan atau kesusahan. Al-Qurtubi menambahkan, Rasulullah SAW merasa sangat berat dan sedih jika ada satu saja dari umatnya yang terjerumus ke dalam siksa api neraka.
2. Ḥarīṣun 'Alaikum (Sangat Berambisi dan Gigih): Rasulullah ﷺ tidak sekadar berempati pada penderitaan umatnya, tetapi juga secara aktif dan gigih menginginkan agar setiap manusia mendapatkan kebaikan, kebahagiaan, serta keselamatan di dunia dan akhirat. Al-Qurtubi menambahkan bahwa beliau sangat berhasrat agar seluruh umatnya menjadi penghuni surga.
Allah juga menyematkan dua sifat-Nya yang mulia kepada Nabi-Nya, yaitu Ra'ūfun dan Raḥīm (sangat lembut dan penyayang), untuk melukiskan betapa lembutnya perlakuan Nabi ﷺ kepada orang-orang beriman. Kata Ra'uf merupakan bentuk hiperbola (mubalaghah), yang menggambarkan tingkat kasih sayang, kepedulian, dan rasa iba yang sangat tinggi melampaui batas kasih sayang biasa.
Ilustrasi Hubungan Nabi Dan Umatnya
Bahwasanya Rasulullah ﷺ didatangi oleh dua malaikat dalam mimpi beliau. Salah satunya duduk di dekat kedua kaki beliau, dan yang lainnya duduk di dekat kepala beliau.
Malaikat yang berada di dekat kaki berkata kepada malaikat yang berada di dekat kepala, "Buatlah perumpamaan untuk orang ini dan umatnya."
Malaikat itu menjawab, "Sesungguhnya perumpamaan beliau dan umatnya adalah seperti sekelompok musafir yang sampai di pangkal padang pasir yang tandus. Mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk menyeberangi padang pasir tersebut, dan tidak pula memiliki bekal untuk pulang kembali.
Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah seorang pria yang mengenakan pakaian indah (pakaian terbuat dari kain yang bergaris-garis/berhias). Pria itu berkata, 'Bagaimana pendapat kalian jika aku membawa kalian menuju taman-taman yang hijau subur dan kolam-kolam air yang melimpah, Apakah kalian akan mengikutiku?'
Mereka menjawab, 'Ya.'
Maka pria itu berangkat membawa mereka dan mengantarkan mereka ke taman-taman yang hijau subur serta kolam-kolam air yang melimpah. Mereka pun makan, minum, dan menjadi gemuk.
Kemudian pria itu berkata kepada mereka, 'Bukankah dahulu aku menemukan kalian dalam keadaan sengsara seperti itu, lalu kalian berjanji kepadaku bahwa jika aku membawa kalian ke taman yang hijau subur dan kolam yang melimpah, kalian akan mengikutiku?' Mereka menjawab, 'Benar.' Pria itu berkata lagi, 'Sesungguhnya di hadapan kalian ada taman-taman yang jauh lebih hijau subur dan kolam-kolam yang jauh lebih melimpah airnya daripada ini, maka ikutlah aku.'
Maka sekelompok orang berkata, 'Dia benar, demi Allah kita pasti akan mengikutinya.' Namun, sekelompok lainnya berkata, 'Kami sudah ridha/puas dengan tempat ini, kami akan tetap tinggal di sini.'"(Tafsir Ibnu Katsir)
Tingkatan Umat Nabi Muhammad
Nabi Muhammad SAW adalah petunjuk jalan. Pria berbaju indah melambangkan Nabi Muhammad SAW yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan (padang pasir) menuju kebahagiaan Islam di dunia (taman pertama).
Ada dua tingkatan umat Nabi ﷺ
1. Kelompok yang Mengikuti (Taat):
Mereka yang tidak cepat puas dengan kenikmatan duniawi, melainkan terus mengikuti petunjuk Nabi demi meraih kenikmatan surga di akhirat yang jauh lebih indah.
2. Kelompok yang Terbuai (Tertinggal):
Mereka yang terlena dan merasa cukup dengan kenikmatan duniawi saja, sehingga enggan melanjutkan perjalanan untuk meraih kebahagiaan akhirat yang abadi.
Umat Bagaikan Hewan Laron
Sayang seribu sayang, betapa pun besarnya kasih dan gigihnya perjuangan Rasulullah SAW untuk menyelamatkan umatnya, masih banyak manusia yang bertindak bak laron—secara buta melempar diri ke dalam kobaran api yang membinasakan.
Tugas mulia beliau dalam merangkul dan menjaga manusia dari kehancuran digambarkan sendiri oleh sang Nabi melalui sebuah perumpamaan yang begitu mendalam dan menggetarkan jiwa:
مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجُنْدُبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي
Melalui hadis ini, ada tiga fakta memprihatinkan tentang diri kita sebagai manusia:
1. Sifat Asli Manusia dan Tipu Daya Kemaksiatan
Laron tertarik pada silau dan hangatnya cahaya api, padahal api itu menghancurkannya. Seperti itulah manusia; kerap kali silau oleh indahnya maksiat dan kenikmatan dunia semu, padahal hal itu membawanya langsung ke dalam neraka.
2. Kasih Sayang Rasulullah ﷺ yang Dahsyat
Beliau tidak sekadar memanggil, tetapi digambarkan sampai memegang erat ikat pinggang kita dengan sekuat tenaga, memegang tubuh kita agar tidak meluncur ke dalam kobaran dosa dan azab.
3. Kebodohan dan Pembangkangan Manusia
Sayangnya, di tengah perjuangan Nabi yang memegang erat tubuh kita, manusia justru meronta, mengabaikan nasihat, menolak peringatan, dan dengan sengaja menerobos halangan demi menerjunkan diri ke dalam api neraka.
Umat Nabi ﷺ Masuk Surga Kecuali Yang Tidak Mau
Pintu surga telah dibuka lebar, petunjuk telah disampaikan, dan Rasulullah telah berusaha menahan kita. Namun, mengapa masih ada di antara manusia yang terseret ke neraka?
Jawabannya ada pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Masuk surga adalah kepastian bagi umat Muhammad, kecuali bagi mereka yang menolak keselamatan bagi diri mereka sendiri. Menolak selamat berarti meremehkan petunjuk, mengabaikan peringatan dan menuruti hawa nafsu menuju kebinasaan.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan melindungi kita semua
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.


0Komentar