Catatan Refleksi Maulid Nabi dan Uswah Hasanah di Era Digital
Oleh: Ust. Dr. H. Ahmad Syifaul Anam, SHI., MH (Sekretaris I MUI Kota Semarang, Wakil Ketua Rumah Muallaf Kota Semarang dan Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang)
Al-Qur’an menempatkan Nabi Muhammad ﷺ pada posisi yang sangat tinggi dalam kehidupan umat Islam. Beliau bukan sekadar pembawa risalah agama ini, melainkan juga uswah hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam Surat Al-Ahzab Ayat 21:
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Namun, di tengah kehidupan digital, muncul sebuah paradoks yang patut direnungkan Adalah bahwa sekalipun secara normatif, Nabi Muhammad ﷺ adalah pusat keteladanan (uswah hasanah) bagi umat ini, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari generasi digital sekarang ini, Beliau tidak selalu hadir sebagai figur yang paling dikagumi, diperbincangkan, atau bahkan ditiru.
Tentu saja, mengatakan bahwa Nabi Muhammad “tidak populer” harus dipahami secara hati-hati. Secara keagamaan dan global, Nabi Muhammad ﷺ tetap merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Jutaan umat Islam membaca shalawat, mengikuti sunnah, mempelajari sirah, dan meneladani kehidupannya. Persoalannya bukan popularitas dalam pengertian jumlah orang yang mengenal nama Muhammad, melainkan popularitas sebagai figur budaya yang hadir dalam ruang perhatian, percakapan, imajinasi, dan perilaku sehari-hari bagi generasi digital.
Di sinilah letak paradoks itu terlihat. Seorang remaja digital masa kini dapat dengan mudah mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Cristiano Ronaldo daripada kehidupan Nabi Muhammad. Ia tahu klub yang dibela Ronaldo, pertandingan yang dimainkannya, gaya rambutnya, latihan fisiknya, keluarganya, aktivitas sosialnya, bahkan makanan atau gaya hidupnya.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيراً
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Namun, di tengah kehidupan digital, muncul sebuah paradoks yang patut direnungkan Adalah bahwa sekalipun secara normatif, Nabi Muhammad ﷺ adalah pusat keteladanan (uswah hasanah) bagi umat ini, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari generasi digital sekarang ini, Beliau tidak selalu hadir sebagai figur yang paling dikagumi, diperbincangkan, atau bahkan ditiru.
Tentu saja, mengatakan bahwa Nabi Muhammad “tidak populer” harus dipahami secara hati-hati. Secara keagamaan dan global, Nabi Muhammad ﷺ tetap merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Jutaan umat Islam membaca shalawat, mengikuti sunnah, mempelajari sirah, dan meneladani kehidupannya. Persoalannya bukan popularitas dalam pengertian jumlah orang yang mengenal nama Muhammad, melainkan popularitas sebagai figur budaya yang hadir dalam ruang perhatian, percakapan, imajinasi, dan perilaku sehari-hari bagi generasi digital.
Di sinilah letak paradoks itu terlihat. Seorang remaja digital masa kini dapat dengan mudah mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Cristiano Ronaldo daripada kehidupan Nabi Muhammad. Ia tahu klub yang dibela Ronaldo, pertandingan yang dimainkannya, gaya rambutnya, latihan fisiknya, keluarganya, aktivitas sosialnya, bahkan makanan atau gaya hidupnya.
Demikian pula penggemar BTS dapat mengetahui jadwal konser, album, pakaian, kehidupan panggung, dan berbagai aktivitasnya melalui media sosial. Para pengikut influencer atau pengagum selebgram atau youtuber bahkan dapat mengetahui rutinitas harian idolanya—apa yang dimakan, dibeli, dikenakan, atau dilakukan hampir setiap hari.
Bandingkan dengan cara sebagian generasi muda mengenal Nabi. Tidak sedikit yang pengetahuannya berhenti pada informasi biografis Beliau: lahir di Makkah, menerima wahyu pada usia 40 tahun, hijrah ke Madinah, melakukan Isra Mikraj, dan wafat pada usia 63 tahun. Mereka mengetahui tentang Nabi, tetapi belum tentu “mengenal” Nabi.
Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam mekanisme pembentukan idola. Figur publik kontemporer hadir secara terus-menerus melalui layar. Mereka membangun kedekatan emosional dengan pengikut melalui foto, video pendek, siaran langsung, podcast, vlog, dan interaksi digital lainnya. Seorang influencer dapat berbicara langsung kepada jutaan pengikutnya setiap hari. Algoritma kemudian memperkuat kedekatan tersebut dengan terus menyajikan wajah, suara, opini, dan kehidupan figur tersebut serta kegiatannya.
Nabi Muhammad ﷺ tentu tidak hadir melalui mekanisme semacam itu. Generasi sekarang mengenal beliau melalui teks dan narasi yang diwariskan melalui dogma agama dan etika. Karena itu, terdapat kesenjangan keterlihatan (visibilitas) tokoh antara figur kenabian dan figur digital kontemporer. Contoh sederhananya dapat ditemukan di media sosial. Ketika seorang atlet atau selebritas memenangi pertandingan, merilis lagu, atau mengunggah kehidupan pribadinya, dalam hitungan menit kontennya dapat memperoleh jutaan tayangan dan komentar. Penggemar kemudian membuat content reaction, fans account, meme, video pendek, kompilasi, hingga berbagai bentuk konten turunan. Mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi sekaligus turut memproduksi kembali idolanya.
Fenomena semacam ini jauh lebih sulit ditemukan dalam representasi Nabi Muhammad. Konten tentang Nabi memang berlimpah dan sangat banyak, tetapi sering kali bersifat satu arah saja, yakni ceramah, kutipan hadis, poster, atau potongan kajian. Pengikut tidak selalu diajak membangun hubungan imajinatif dan emosional dengan kehidupan Nabi sebagaimana mereka membangun hubungan dengan figur populer kontemporer.
Di sinilah persoalan yang lebih dalam muncul. Nabi mungkin sangat dikenal secara teologis, tetapi belum tentu dominan secara kultural dalam ruang perhatian generasi digital. Bahkan ketika nama Nabi muncul dalam media sosial, tidak jarang yang menjadi viral justru perdebatan tentang Nabi: perbedaan pemahaman hadis, kontroversi sunnah, perdebatan mazhab, atau pertentangan antarkelompok. Akibatnya, representasi Nabi kadang tertutup oleh konflik mengenai Nabi. Generasi muda akhirnya lebih sering melihat umat berdebat tentang Rasulullah daripada menyaksikan nilai-nilai Rasulullah diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Padahal kehidupan Nabi menyimpan materi yang sangat kuat untuk menjawab persoalan masyarakat digital. Di tengah banjir informasi dan hoaks, Nabi mengajarkan kejujuran dan kehati-hatian menerima berita. Di tengah budaya cyberbullying, beliau memberikan teladan kasih sayang dan pengendalian diri. Di tengah cancel culture, beliau memperlihatkan ruang bagi pengampunan. Di tengah budaya pamer (flexing) dan konsumsi berlebihan, beliau menunjukkan kesederhanaan. Di tengah polarisasi sosial, beliau memperlihatkan kemampuan membangun rekonsiliasi. Di tengah krisis kepercayaan kepada pemimpin, beliau menunjukkan integritas dan amanah.
Dengan demikian, problemnya bukan Nabi kehilangan relevansi. Justru sebaliknya: kita sedang menghadapi kegagalan menerjemahkan relevansi Nabi ke dalam bahasa kehidupan generasi digital. Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar perintah, “Ikutilah Nabi.” Mereka perlu diperlihatkan mengapa Nabi layak diikuti. Mereka perlu diajak memasuki dunia kehidupan beliau: merasakan kesedihannya, memahami perjuangannya, melihat bagaimana beliau menghadapi musuh, menyaksikan kelembutannya kepada anak-anak, memahami keberpihakannya kepada orang miskin, dan melihat bagaimana beliau membangun masyarakat dari sebuah komunitas yang terpecah menjadi umat yang memiliki solidaritas.
Dengan kata lain, kita perlu menggeser pola mengenal Nabi dari doktrin keteladanan menuju pengalaman keteladanan. Nabi tidak membutuhkan popularitas algoritmik. Yang membutuhkan perubahan adalah cara kita menghadirkan Nabi dalam kesadaran generasi digital. Jika selama ini figur publik memenangkan perhatian karena mereka mampu menceritakan kehidupannya secara terus-menerus, maka umat Islam perlu menemukan cara yang bertanggung jawab untuk menghadirkan sirah Nabi sebagai narasi kehidupan yang hidup, relevan, dan menyentuh persoalan manusia modern.
Sebab pertanyaan terpenting bukanlah: “Mengapa anak muda tidak menjadikan Nabi sebagai idola?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah: “Apakah kita telah memperkenalkan Nabi kepada mereka dengan cara yang memungkinkan mereka mengenal, memahami, mengagumi, mencintai, dan akhirnya meneladani beliau?”
Jika jawabannya belum, maka persoalannya bukan pada Nabi Muhammad ﷺ. Persoalannya ada pada kita—pada cara pendidikan, dakwah, media, dan kebudayaan Islam menghadirkan sosok uswah hasanah di tengah kompetisi perhatian era algoritmik. Di situlah tugas dakwah dan Pendidikan kita sesungguhnya, yakni bukan membuat Nabi menjadi “viral”, tetapi bagaimana membuat nilai-nilai kenabian kembali hidup dalam perilaku manusia digital. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ’ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Bandingkan dengan cara sebagian generasi muda mengenal Nabi. Tidak sedikit yang pengetahuannya berhenti pada informasi biografis Beliau: lahir di Makkah, menerima wahyu pada usia 40 tahun, hijrah ke Madinah, melakukan Isra Mikraj, dan wafat pada usia 63 tahun. Mereka mengetahui tentang Nabi, tetapi belum tentu “mengenal” Nabi.
Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam mekanisme pembentukan idola. Figur publik kontemporer hadir secara terus-menerus melalui layar. Mereka membangun kedekatan emosional dengan pengikut melalui foto, video pendek, siaran langsung, podcast, vlog, dan interaksi digital lainnya. Seorang influencer dapat berbicara langsung kepada jutaan pengikutnya setiap hari. Algoritma kemudian memperkuat kedekatan tersebut dengan terus menyajikan wajah, suara, opini, dan kehidupan figur tersebut serta kegiatannya.
Nabi Muhammad ﷺ tentu tidak hadir melalui mekanisme semacam itu. Generasi sekarang mengenal beliau melalui teks dan narasi yang diwariskan melalui dogma agama dan etika. Karena itu, terdapat kesenjangan keterlihatan (visibilitas) tokoh antara figur kenabian dan figur digital kontemporer. Contoh sederhananya dapat ditemukan di media sosial. Ketika seorang atlet atau selebritas memenangi pertandingan, merilis lagu, atau mengunggah kehidupan pribadinya, dalam hitungan menit kontennya dapat memperoleh jutaan tayangan dan komentar. Penggemar kemudian membuat content reaction, fans account, meme, video pendek, kompilasi, hingga berbagai bentuk konten turunan. Mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi sekaligus turut memproduksi kembali idolanya.
Fenomena semacam ini jauh lebih sulit ditemukan dalam representasi Nabi Muhammad. Konten tentang Nabi memang berlimpah dan sangat banyak, tetapi sering kali bersifat satu arah saja, yakni ceramah, kutipan hadis, poster, atau potongan kajian. Pengikut tidak selalu diajak membangun hubungan imajinatif dan emosional dengan kehidupan Nabi sebagaimana mereka membangun hubungan dengan figur populer kontemporer.
Di sinilah persoalan yang lebih dalam muncul. Nabi mungkin sangat dikenal secara teologis, tetapi belum tentu dominan secara kultural dalam ruang perhatian generasi digital. Bahkan ketika nama Nabi muncul dalam media sosial, tidak jarang yang menjadi viral justru perdebatan tentang Nabi: perbedaan pemahaman hadis, kontroversi sunnah, perdebatan mazhab, atau pertentangan antarkelompok. Akibatnya, representasi Nabi kadang tertutup oleh konflik mengenai Nabi. Generasi muda akhirnya lebih sering melihat umat berdebat tentang Rasulullah daripada menyaksikan nilai-nilai Rasulullah diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Padahal kehidupan Nabi menyimpan materi yang sangat kuat untuk menjawab persoalan masyarakat digital. Di tengah banjir informasi dan hoaks, Nabi mengajarkan kejujuran dan kehati-hatian menerima berita. Di tengah budaya cyberbullying, beliau memberikan teladan kasih sayang dan pengendalian diri. Di tengah cancel culture, beliau memperlihatkan ruang bagi pengampunan. Di tengah budaya pamer (flexing) dan konsumsi berlebihan, beliau menunjukkan kesederhanaan. Di tengah polarisasi sosial, beliau memperlihatkan kemampuan membangun rekonsiliasi. Di tengah krisis kepercayaan kepada pemimpin, beliau menunjukkan integritas dan amanah.
Dengan demikian, problemnya bukan Nabi kehilangan relevansi. Justru sebaliknya: kita sedang menghadapi kegagalan menerjemahkan relevansi Nabi ke dalam bahasa kehidupan generasi digital. Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar perintah, “Ikutilah Nabi.” Mereka perlu diperlihatkan mengapa Nabi layak diikuti. Mereka perlu diajak memasuki dunia kehidupan beliau: merasakan kesedihannya, memahami perjuangannya, melihat bagaimana beliau menghadapi musuh, menyaksikan kelembutannya kepada anak-anak, memahami keberpihakannya kepada orang miskin, dan melihat bagaimana beliau membangun masyarakat dari sebuah komunitas yang terpecah menjadi umat yang memiliki solidaritas.
Dengan kata lain, kita perlu menggeser pola mengenal Nabi dari doktrin keteladanan menuju pengalaman keteladanan. Nabi tidak membutuhkan popularitas algoritmik. Yang membutuhkan perubahan adalah cara kita menghadirkan Nabi dalam kesadaran generasi digital. Jika selama ini figur publik memenangkan perhatian karena mereka mampu menceritakan kehidupannya secara terus-menerus, maka umat Islam perlu menemukan cara yang bertanggung jawab untuk menghadirkan sirah Nabi sebagai narasi kehidupan yang hidup, relevan, dan menyentuh persoalan manusia modern.
Sebab pertanyaan terpenting bukanlah: “Mengapa anak muda tidak menjadikan Nabi sebagai idola?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah: “Apakah kita telah memperkenalkan Nabi kepada mereka dengan cara yang memungkinkan mereka mengenal, memahami, mengagumi, mencintai, dan akhirnya meneladani beliau?”
Jika jawabannya belum, maka persoalannya bukan pada Nabi Muhammad ﷺ. Persoalannya ada pada kita—pada cara pendidikan, dakwah, media, dan kebudayaan Islam menghadirkan sosok uswah hasanah di tengah kompetisi perhatian era algoritmik. Di situlah tugas dakwah dan Pendidikan kita sesungguhnya, yakni bukan membuat Nabi menjadi “viral”, tetapi bagaimana membuat nilai-nilai kenabian kembali hidup dalam perilaku manusia digital. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ’ala alihi wa ashabihi ajma’in.


0Komentar