![]() |
Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang, Dr KH Amin Farih MAg
SEMARANG –Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang, Dr KH Amin Farih MAg, menegaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang memiliki keistimewaan luar biasa bagi umat Rasulullah Muhammad _Shallallahu ‘Alaihi Wasallam_ (SAW). Karena keistiwaan itu tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu.
Hal itu Kiai Amin sampaikan dalam program Pesantren Ramadhan yang disiarkan RRI Pro 1 Semarang pada Kamis (26/2/2026), dengan mengangkat tema “Puasa Ramadhan Bulan Keistimewaan bagi Umat Muhammad”.
Mengutip hadis riwayat Ibnu Abbas, Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Amin Ngaliyan dan Mijen Semarang tersebut, menyebutkan setidaknya ada tujuh keutamaan Ramadhan bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Pertama, (_Al-hasanatu mujtamaatun fi Ramadhan_), berbagai kebaikan berkumpul/terkumpul di bulan Ramadhan. Sejak malam pertama, pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat. Ini menandakan bahwa Ramadhan adalah momentum kebaikan.
Kedua, (_Wal Hasanatu Mudhoafatun_), dan kebaikan itu dilipatgandakan. Bahwa pahala amal ibadah dilipatgandakan melebihi bulan-bulan lainnya. Jika pada waktu biasa satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, maka pada bulan Ramadhan Allah melipatgandakannya tanpa batas. Asshaumihuli waana ajzi bihi. Jadi Allah yang yang memberikan bahalanya, bisa 1000, 2000 dan seterusnya.
Ketiga, (_Watho’atu Maqbulatun_), yang berarti ketaatan yang diterima. Jadi ketaatan di bulan Ramadhan itu pasti diiterima oleh Allah SWT. Karena ini memang keistimewaan yang diberolan Allah kepada Umar Nabi Muhammad. Maka dari itu, kita menjalankan ibadah apaun di Bulan Ramadhan pasti diterima oleh Allah SWT.
Keempat, (_Wad da'awatu mustajabatun_), doa yang dikabaulkan. Maka pada Bulan Ramadhan, para ulama itu setiap Ramadhan menghadirkan waktu-waktu khusus untuk berdoa berdoa dan munajat kepada Allah. Karena disitulah Allah mengijabahi terhadap doa-doa hambaNya.
Kelima, (_Wadzunubu maghfiratun_), dosa-dosa yang diampuni. Karenanya, bulan Ramadhan menjadi momentum pengampunan dosa. Maka penting pada bulan Ramadhan memperbanyak doa, khususnya doa yang diajarkan Rasulullah, عَنِّي فَاعْفُ الْعَفْوَ تُحِبُّ كَرِيمٌ عَفْوٌ إنَّك اللَّهُمَّ _“Allahumma innaka ‘afuwwun karimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna ya karim_” "Tuhanku, sungguh Kau maha pengampun lagi pemurah. Kau menyukai ampunan, oleh karenanya ampunilah aku". Maka hal ini sebagai ikhtiar meraih ampunan Allah SWT.
Keenam, (_aljannatu mustaqatun_), bahwa surga merindukan menanti pada orang-orang yang berpuasa pada Bulan Ramadhan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan adanya pintu khusus bernama Ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Maka surga itu senantiasa merindukan orang-orang yang berpuasa Ramadhan.
Ketujuh, adanya (_Lailatul Qadar_). Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ibadah pada malam tersebut setara atau bahkan lebiah baik dari ibadah selama seribu bulan atau 83 tahun. Ini tentu sebuah keutamaan yang menjadi anugerah agung bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Allah memberikan “fasilitas” khusus di bulan Ramadhan berupa dirantainya setan-setan sehingga dorongan maksiat melemah, sementara malaikat diperintahkan untuk memotivasi manusia dalam beribadah.
“Di bulan ini, semangat ibadah terasa lebih ringan. Masjid-masjid penuh, orang lebih gemar membaca Al-Qur’an, bersedekah, menunaikan zakat, serta melaksanakan shalat malam seperti tarawih, tahajud, dan witir. Itu bagian dari fasilitas spiritual yang Allah berikan,” terangnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah, mulai dari shalat lima waktu berjamaah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Lalu bersedekah, sehingga menunaikan zakat fitrah dan zakat mal dilaksanakan pada Bulan Ramadhan.
Menurutnya, tantangan terbesar umat Islam justru terletak pada kemampuan menangkap momentum tersebut. “Kalau kita tidak mampu memanfaatkan dua fasilitas tadi motivasi malaikat dan dibelenggunya setan—maka kita termasuk orang yang merugi,” ujarnya.
Kiai Amin menutup tausiyah dengan ajakan agar umat Islam memaksimalkan Ramadhan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amal kebajikan, serta meminimalkan perbuatan dosa. “Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu kita temui kembali. Gunakan sebaik-baiknya untuk meraih keberkahan dan ampunan,” pungkasnya.. "Tuhanku, sungguh Kau maha pengampun lagi pemurah. Kau menyukai ampunan, oleh karenanya ampunilah aku". Maka hal ini sebagai ikhtiar meraih ampunan Allah SWT.
Allah memberikan “fasilitas” khusus di bulan Ramadhan berupa dirantainya setan-setan sehingga dorongan maksiat melemah, sementara malaikat diperintahkan untuk memotivasi manusia dalam beribadah.
“Di bulan ini, semangat ibadah terasa lebih ringan. Masjid-masjid penuh, orang lebih gemar membaca Al-Qur’an, bersedekah, menunaikan zakat, serta melaksanakan shalat malam seperti tarawih, tahajud, dan witir. Itu bagian dari fasilitas spiritual yang Allah berikan,” terangnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah, mulai dari shalat lima waktu berjamaah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Lalu bersedekah, sehingga menunaikan zakat fitrah dan zakat mal dilaksanakan pada Bulan Ramadhan.
Menurutnya, tantangan terbesar umat Islam justru terletak pada kemampuan menangkap momentum tersebut. “Kalau kita tidak mampu memanfaatkan dua fasilitas tadi motivasi malaikat dan dibelenggunya setan—maka kita termasuk orang yang merugi,” ujarnya.
Kiai Amin menutup tausiyah dengan ajakan agar umat Islam memaksimalkan Ramadhan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amal kebajikan, serta meminimalkan perbuatan dosa. “Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu kita temui kembali. Gunakan sebaik-baiknya untuk meraih keberkahan dan ampunan,” pungkasnya.

0Komentar