TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

Ramadan dan Keteladanan Kasih Sayang Nabi Muhammad


Oleh Dr. H. Ahmad Tajuddin Arafat, M.S.I, Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Akademisi UIN Walisongo, Semarang.

Setelah Rasulullah saw bersama para sahabatnya kembali dari Perang Badar dengan membawa anugerah kemenangan, Rasulullah saw bersama pasukan yang tersisa menuju ke Madinah bersama dengan berbagai harta rampasan dan tawanan perang.

Tercatat setidaknya ada sekitar tujuh puluh tawanan perang yang dibawa Rasulullah ke Madinah.

Saat di Madinah, Rasulullah saw bermusyawarah dengan para sahabat perihal apa yang harus dilakukan kepada tawanan ini. Dalam musyawarah tersebut, Abu Bakar berpandangan jika alangkah baiknya mereka (tawanan) dibiarkan hidup dan diajak untuk masuk Islam. Bukankah mereka juga adalah kaummu dan keluargamu, kata Abu Bakar.

Berbeda dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab berpendapat agar mereka semua diadili dan dipenggal, kerena mereka telah mengusirmu dari tanah kelahiranmu.

Lebih dari apa yang diusulkan oleh Umar, seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Rawahah bahkan menyarankan kepada Rasulullah saw untuk membakar hidup-hidup mereka.

Rasulullah saw kemudian berkata dihadapan para sahabat: sungguh Allah swt melembutkan hati sebagian dari kalian dan sungguh Allah swt mengeraskan hati sebagian dari kalian.

Singkat cerita, Rasulullah saw memutuskan untuk berlaku proporsional dalam memperlakukan para tawanan. Mayoritas dari mereka mendapatkan pengampunan dengan sarat mau membayar tebusan dan dengan mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim. Tercatat hanya ada dua tawanan yang dieksekusi hukum mati.

Selain itu, para sahabat diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk merawat mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan dari kesaksian para tawanan, jamuan dan perawatan yang dilakukan oleh kaum Muslim kepada mereka telah mengetuk sebagian dari hati mereka untuk memeluk Islam.

Inilah Kerahmatan Genetik


Kisah tersebut terjadi saat Rasulullah saw bersama sahabat berpuasa Ramadan dalam pertama kalinya. Dan apa yang kita saksikan dari penggalan kisah tersebut adalah bahwa kerahmatan yang dimiliki oleh Rasulullah saw adalah kerahmatan genetik. Kerahmatan yang terpatri dalam pribadi Rasulullah saw.

Kerahmatan yang diwariskan dari leluhur-leluhur yang mulia, terlebih dari kakek beliau, yaitu Nabi Ibrahim a.s. Tengoklah bagaimana kelembutan sikap Ibrahim a.s. kepada ayahandanya (Q.S. Maryam: 41-47). Dan ingatlah bahwa kehadiran Rasulullah saw di muka bumi ini adalah berkat doa yang dipanjatkan oleh Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. (Q.S. al-Baqarah: 129). Rasulullah saw sendiri pun dalam sebuah riwayat, beliau berkata: aku adalah doa ayahku, Ibrahim a.s dan kabar bahagianya Isa a.s.

Sisi kerahmatan ini pula dipertegas dengan pernyataan Allah swt dalam Q.S. al-Anbiya’: 107, “dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan pula bahwa “Sesungguhnya saya tidak diutus sebagai pemberi laknat, tapi saya diutus untuk member rahmat”.

Kerahmatan inilah yang pada hakikatnya merupakan cerminan atas sisi kemanusiaan Rasulillah saw. Kerahmatan tersebut tidak hanya terekam dalam catatan kehebatan Rasul saw dalam memahami peristiwa sosial yang besar saat itu.

Namun, hal tersebut juga mewujud pada hal-hal yang remeh dan ringan, seperti dalam riwayat yang menceritakan tatkala salah satu sahabat Rasul saw yang bernama Abu Barzah bertanya kepada beliau tentang ilmu yang bermanfaat bagi dirinya. Kemudian Rasul saw menjawabnya dengan berkata: singkirkanlah sesuatu yang ada di jalan yang dapat menyakiti orang yang melewatinya. Bahkan perilaku yang terlihat remeh inipun Rasulullah saw menjadikannya sebagai bagian dari indicator keimanan kita.

Dalam berbagai riwayat pula dinyatakan bahwa kerahmatan Rasul saw juga mewujud dalam bentuk memberikan sisi kemudahan dalam berbagai hal dalam menjalankan kehidupan ini selama hal tersebut tidak menjerumuskan pada perbuatan maksiat dan dosa.

Siti Aisyah pernah berkata: bahwa Rasulullah saw tidak memilih dari dua hal kecuali yang paling mudah di antara keduanya selama hal itu tidak perbuatan dosa. Selain itu, Rasul saw adalah pribadi mulia yang tidak pernah berkata dengan perkataan yang kotor nan keji (fahisy) dan berperilaku dengan perilaku yang keji dan zalim (mutafahhisy).

Ini Pondasi Kita Bersama


Kerahmatan yang dimanifestasikan oleh Rasulullah saw dalam berbagai sikap dan perilakunya tersebut seharusnya menjadi cermin dan pondasi keberagamaan kita bersama. Saat ini, tampak sekali semangat keberagamaan itu bisa dirasakan serta atribusi-atribusi kesalehan tampak dimana-mana. Apalagi dalam suasana hangatnya Ramadan seperti sekarang ini.

Sudah pasti setiap muslim akan berkompetisi dalam kebaikan. Namun, kita masih banyak melihat semangat keberagamaan tersebut tidak dibarengi dengan semangat untuk memahami agama dengan bijak nan santun.

Ramadan seperti saat ini seharusnya dijadikan sebagai arena bagi kita untuk menyebarkan kerahmatan dan keramahan kepada yang lain. Puasa yang kita jalankan saat ini seharusnya mampu mengambil pelajaran bahwa rasa dahaga dan haus yang dirasakan oleh sebagian dari saudara kita seharusnya mampu membawa kesadaran bahwa rasa kasih dan empati adalah agama kita bersama.

Kita berpuasa bukanlah untuk dihormati dan dirahmati oleh yang lain, melainkan kitalah yang seharusnya merahmati dan menghormati yang lain, sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat memuliakan tawanan perang Badar. Bukankah Ramadan bermakna membakar? membakar diri dari ketamakan, egoism, dan keakuan, menuju pada pribadi yang ramah dan rahmah kepada yang lain.
Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin