TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

Puasa di Era Digital: Menjaga Jari, Menyelamatkan Hati

Kita hidup pada zaman ketika satu unggahan mampu menjangkau ribuan bahkan jutaan manusia dalam hitungan detik. Jika dahulu kesalahan mungkin terbatas ruang dan waktu, hari ini ia bisa tersebar tanpa batas. Satu komentar dapat melukai banyak hati, Satu potongan video tanpa konteks bisa memicu prasangka ataupun perdebatan. Satu berita palsu (hoaks) dapat meretakkan ukhuwah.

Ramadan hadir bukan sekadar sebagai momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai madrasah tazkiyatun nafs yaitu sekolah penyucian jiwa. Puasa adalah latihan imsak (menahan) dalam pengendalian diri secara menyeluruh. Bukan hanya perut yang ditahan, tetapi juga lisan, pikiran, dan adab khususnya ketika berada di media sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya”. (HR. Bukhari: 1804)

Hadis ini menegaskan bahwa substansi puasa terletak pada penjagaan diri dari qaul az-zur dan amal keburukan. Sehingga di era serba digitalisasi saat ini dusta tidak lagi hanya diucapkan, tetapi diketik dan disebarkan. Keburukan tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi diperbanyak melalui tombol “bagikan”. Jika konten yang menyesatkan tetap tersebar melalui tangan kita, maka nilai ruhani puasa menjadi tergerus.

Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang kokoh tentang etika menerima informasi:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا (الحجرات: ٦) 

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini adalah fondasi tabayyun dan mizan al-‘adl dalam kehidupan bermedia sosial. Setiap informasi wajib diverifikasi dan dipastikan kebenranya. Setiap kabar harus ditimbang dengan keadilan dan kejernihan hati. Menjadi bagian dari rantai penyebar hoaks berarti ikut menanggung dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

Puasa dari dosa digital berarti melatih muraqabah atau kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi. Menahan jari dari mengetik keburukan adalah bentuk jihad an-nafs yang nyata. Membatasi paparan konten yang merusak iman adalah bentuk penjagaan hati. Sehingga disini kita harus bisa membentengi diri kita sendiri untuk bisa selalu tetap istiqomah melakukan kebaikan disemua dimensi kehidupan khususnya dalam bulan Ramadan.

Ramadan adalah momentum mereset spiritual bagi kaum muslim. Hati yang ingin bersih memerlukan asupan yang bersih. Apa yang dilihat, didengar, dan dibaca akan membentuk suasana batin serta kualitas iman. Konten yang penuh sensasi, provokasi, dan syahwat visual akan mengeraskan hati dan mengurangi kekhusyukan. Sebaliknya, konten yang mengingatkan kepada Allah akan menumbuhkan ketenangan dan memperkuat taqwa.

Teknologi pada hakikatnya netral. Ia bisa menjadi sarana ajr atau sumber wizr, media sosial dapat menjadi ladang hasanat jika diisi dengan dakwah, nasihat, dan doa. Ia juga bisa menjadi ladang dosa jika dipenuhi fitnah, ghibah, dan kemaksiatan. Pilihan ada pada kesadaran dan disiplin diri kita sendiri.

Ramadan seharusnya melahirkan pribadi yang bukan hanya sha’im secara fisik, tetapi menambah keimanan kita sebagai hamba yang menjaga iman di tengah derasnya arus informasi. Esensi Puasa  pada era digital saat ini adalah kemampuan mengendalikan diri di ruang digital sebagaimana mengendalikan diri dari makanan dan minuman.


Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin