SEMARANG – Gema Ramadan di Kota Semarang terasa hangat dengan bergulirnya program Tarawih Keliling (Tarling).
Pada putaran hari kelima, Minggu (22/2/2026), Aula Rumah Dinas Wali Kota Semarang menjadi saksi berkumpulnya sekitar 400 jamaah dalam suasana ibadah yang khusyuk dan pesan mendalam tentang ketahanan keluarga.
Kegiatan itu dihadiri oleh jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang, perwakilan MUI dari 16 kecamatan, serta tokoh masyarakat.
Bertindak sebagai imam shalat adalah Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Amin yang juga Ketua MUI Kota Semarang Dr KH Amin Farih MAg. Sementara tajuk pesan keagamaan disampaikan langsung oleh Ketua Umum MUI Kota Semarang, Prof Dr KH Moch Erfan Subahar MAg.
Dalam tausiyahnya, Prof Erfan menyoroti pergeseran pandangan terhadap agama di era modern. Ia menegaskan bahwa agama seharusnya tidak berhenti pada identitas administratif, melainkan menjelma sebagai sistem nilai yang membimbing manusia menuju kesejahteraan dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.
"Agama harus hadir dalam kehidupan, tidak sekadar formalitas. Ia harus menjadi pedoman yang hidup dalam keseharian, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya.
Ia menekankan bahwa kehidupan beragama yang diimplementasikan dengan benar akan melahirkan ketenteraman sosial dan mempererat persaudaraan, selaras dengan semangat kebangsaan Indonesia yang inklusif.
Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah pentingnya orang tua dalam menjaga estafet keimanan bagi generasi penerus.
Prof Erfan menarik benang merah sejarah dari masa Nabi Adam, Nabi Ibrahim, hingga Nabi Yakub. Ia mengisahkan bagaimana para rasul tersebut memberikan perhatian besar pada apa yang akan disembah oleh anak cucu mereka sepeninggal mereka nanti.
"Pesan para nabi menjadi pengingat bagi kita semua untuk menanamkan nilai-nilai agama secara konsisten dalam keluarga. Ini adalah warisan terbaik yang bisa diberikan orang tua kepada anak-anaknya," ujarnya.
Lebih lanjut, Prof Erfan mendorong adanya penguatan kurikulum keberagamaan dalam pembinaan umat. Hal ini dinilai penting agar nilai-nilai spiritualitas tetap kokoh di tengah arus globalisasi, terutama bagi generasi muda Semarang.
Apresiasi khusus diberikan Prof Erfan kepada jamaah remaja yang turut memadati aula. Kehadiran mereka dianggap sebagai sinyal positif bagi keberlanjutan dakwah yang damai di Kota Atlas.
Antusiasme itu menunjukkan bahwa ruang-ruang ibadah masih menjadi magnet bagi masyarakat untuk mencari ketenangan sekaligus ilmu.
Acara diakhiri dengan doa bersama yang memohon perlindungan bangsa dan keselamatan umat. Suasana hangat penuh silaturahmi yang tercipta malam itu mencerminkan esensi Ramadan sebagai bulan pemersatu.

0Komentar