TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

Halaqah Ulama MUI Kota Semarang: Hidup Sehat untuk Ibadah dan Literasi Digital untuk MUI Lebih Maslahah


Semarang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang menggelar halaqah ulama bertema “Hidup Sehat wal afiat untuk ibadah literasi digital untuk MUI lebih maslahah”, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Sabtu (17/1/2026).

Acara yang digelar bersamaan dengan pelantikan dan rapat kerja itu, menghadirkan dua narasumber yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dr dr H Muhammad Abdul Hakam SpPD Finasim dan Jurnalis, H Moh Miftahul Arief SPdI MPd.

Dalam kesempatan itu, dr Hakam menyampaikan, ulama punya peran penting dalam upaya mewujudkan lingkungan sehat untuk di Kota Semarang.

Menurutnya, Islam sangat mendukung umatnya untuk berprilaku hidup sehat. Dalam konsep bersuci atau taharah misalnya, mengajarkan kepada umat bahwa kebersihan itu sebagai upaya pencegahan penyakit.

Karena itu, menurutnya, basis religius dapat menjadi pendorong untuk perilaku hidup bersih dan sehat, sanitasi, serta edukasi kesehatan. “Kebersihan personal dan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif,” katanya.

Stragegi yang dilakukan lanjut dia, yaitu integrasi nilai agama dalam kebijakan kesehatan, seperti kebersihan, halal, dan etika.

Kemudian, edukasi pencegahan melalui ceramah dan majelis keagamaan. Selanjutnya pendidikan kesehatan yang selaras dengan ajaran Islam. Sedangkan

fasilitasi pelayanan kesehatan yang diberikan di antaranya vaksinasi, skrining, advokasi vaksinasi, erta pencegahan sesuai nilai Islam.

Kolaborasi penanganan wabah dengan tenaga kesehatan. Penguatan jejaring sosial dan dukungan umat terdampak kampanye kesehatan berbasis nilai keagamaan.

“Ulama berperan sebagai penyampai pesan yang dipercaya umat. Sedang pemerintah sebagai penjamin kebijakan dan layanan. Sementara masjid dan lembaga keagamaan menjadi pusat edukasi dan penguatan sosial masyarakat," terangnya.

Sementara itu, Miftahul Arief meyampaikan materi literasi digital untuk MUI lebih maslahah. Menurutnya, untuk era sekarang, literasi digital sangat penting bagi ulama. Terlebih audiens dari generasi milenial sangat dekat dengan digital.

Adapun urgensi dari literasi digital, Arif menjelaskan, pembinaan umat kini dilakukan secara digital. Sebab, timeline sama pentingnya dengan majelis.

Ia mengatakan, dakwah urban harus adaptif, visual, interaktif, dan generasi sentris. "Di sini lah reputasi MUI dibentuk dari citra di media sosial," ujarnya.

Di samping itu, hoaks agama dan provokasi di media sosial sangat cepat viral. Maka MUI harus hadir sebagai penengah.

"Ulama memiliki peran penting dalam memilih dan memverifikasi informasi keagamaan. Menyampaikan dakwah melalui media digital serta menjadi penjaga moral dan moderasi umat. Sebagai contoh, mengecek fakta sebelum share konten di media sosial," terangnya.

Ia menjelaskan, literasi digital merupakan kemampuan menggunakan teknologi secaracerdas dan kritis untuk mengakses, menilai, membagikan informasi, serta berkomunikasi dan bekerja sama. Harapannya, setiap orang dapatmemanfaatkan dunia digital dengan bijak dan bertanggung jawab.
Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin