TfMiBSz8TpMiGSWiBUO5GUriGi==
00 month 0000

Headline:

MUI Kecamatan Mijen Kota Semarang Sukses Helat Halaqah Bertema Pasca Pilkada


Semarang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Mijen Kota Semarang sukses menggelar kegiatan halaqah bertema bertema ‘Merawat Harmoni pasca pilkada serentak 2024,’ di aula Kecamatan Mijen Kota Semarang, Kamis, 11 Desember 2024,

Sekretaris Umum MUI Kota Semarang, Dr. KH. Ismail, M.Ag, yang hadir bersama ketua 3 MUI Kota Semarang, Dr. KH. AMin Farih, M.Ag mengapresiasi terlaksananya kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, halaqah ini berlangsung sukses dan penuh berkah,” jelas KH. Ismail

Dosen Fakultas Saintek UIN Walisongo itu memaparkan, kegiatan yang diikuti 50 peserta tersebut wujud sinergitas semua pihak, diantaranya ulama, tokoh masyarakat, serta aparat pemerintah.

Dijelaskannya, penting menjaga harmoni di antara sesama warga anak bangsa dengan mengamalkan trilogi ukhuwah, yaitu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyyah dan Ukhuwah Basyariyah.

"Dalam forum yang mulia ini, izinkan kami menekankan pentingnya menjaga harmoni di antara sesama anak bangsa dengan mengamalkan Trilogi Ukhuwah: Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyyah, dan Ukhuwah Basyariyah," ungkapnya.

Pertama, Ukhuwah Islamiyah: Meneguhkan Ikatan Akidah di Tengah Tanawwu’ (Keragaman). Marilah kita maknai kembali Ukhuwah Islamiyah bukan sekadar persaudaraan emosional, melainkan ikatan spiritual yang berlandaskan Tauhid.

Dalam konteks halaqah ini, urgensi ukhuwah terletak pada kemampuan kita menjaga persatuan di tengah tanawwu’ al-afkar (keragaman pemikiran) dan mazhab.

"Sebagaimana kaidah: ‘al-ittihad fi al-ashl, wa al-tasamuh fi al-furu’ (bersatu dalam prinsip pokok, dan toleran dalam perkara cabang), kita terpanggil untuk mengedepankan ukhuwah di atas kepentingan faksi atau kelompok, agar energi umat tidak habis untuk pertikaian internal yang kontraproduktif terhadap dakwah," sambungnya.

Kedua, Ukhuwah Wathoniyyah: Komitmen Kebangsaan sebagai Manifestasi Iman. Sebagai ulama dan tokoh masyarakat yang hidup di bumi Nusantara, kita mengemban amanah Ukhuwah Wathoniyyah.

Persaudaraan kebangsaan menurutnya bukanlah bentuk pendangkalan akidah, melainkan manifestasi dari kesadaran bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan.

"Kita merujuk pada keteladanan Rasulullah SAW dalam Mitsaq al-Madinah (Piagam Madinah) yang mendudukkan seluruh komponen bangsa sebagai satu umat (ummah) dalam hak dan kewajiban warga negara. Harmoni wathoniyyah menuntut kita untuk menjadi jembatan perdamaian bagi seluruh anak bangsa, lintas suku dan agama, demi tegaknya marwah NKRI," lanjutnya.

Ketiga, Ukhuwah Basyariyah: Menebar Rahmatan lil ‘Alamin secara Universal. "Kita terikat oleh Ukhuwah Basyariyah atau Insaniyah, yakni persaudaraan universal sesama keturunan Nabi Adam AS. Ulama dan Umara memiliki peran sentral untuk menyuarakan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan manusia (karamah al-insan)," tuturnya.

Persaudaraan ini, sambung Kyai Ismail, menembus sekat-sekat geografis dan ideologis, di mana kita dituntut untuk bersikap adil dan ihsan kepada siapa pun atas dasar kemanusiaan.

"Dengan mengamalkan Ukhuwah Basyariyah, kita membuktikan bahwa Islam hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai Rahmatan lil ‘Alamin yang membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali," tukasnya.

"Penutup, dengan menjaga Trilogi Ukhuwah secara konsisten, niscaya akan tercapai kehidupan yang harmoni, damai, dan guyub rukun. Inilah fondasi terwujudnya persatuan, sikap saling menolong, serta toleransi yang tulus di tengah kemajemukan bangsa kita," pungkasnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Mijen, Danramil Mijen, Kapolsek Mojen, serta Ketua dan Pengurus Takmir Masjid se-Kecamatan Mijen.
Daftar Isi

0Komentar

Formulir
Tautan berhasil disalin